Langsung ke konten utama

Semua Sama

Free image by Pixabay

Gina memakirkan mobilnya tak jauh dari gerbang sekolah. Ia sedang menunggu sang putra kesayangan. Tak lama berselang, putra kecilnya berlari sembari merentangkan tangan.⁣
"Sayang, kenapa lari-lari? Nanti kalau jatuh bagaimana?" tanya Gina sembari memeluk putranya. Yang diingatkan hanya cengengesan. ⁣
"Vino ingin beli es krim di situ, Ma."⁣
"Ayo! Oh, ya, tadi Vino belajar apa?"⁣
"Vino belajar menulis, Ma. Tapi Vino pusing saat melihat tulisan di papan. Kata Bu Rena tulisan Vino masih terbolak-balik," lirih Vino.⁣
"Tidak apa-apa, Nak. Yang penting Vino sudah belajar dengan giat."⁣
Gina menggandeng tangan Vino menuju kedai es krim di dekat sekolah.⁣
"Hiks ... teman-teman Dela juga banyak yang belum lancar membacanya, Bun. Hiks ... bukan hanya Dela."⁣
Sayup-sayup Gina mendengar seorang anak perempuan menangis. Ia terlihat celingukan. Sampai matanya tertumbuk pada taman samping sekolah.⁣
"Bu Mila," sapa Gina.⁣
"Eh, Bu Gina."⁣
"Ehm ... kenapa Dela menangis, Bu?"⁣
"Ini, nih, Bu Gina. Setiap hari saya sudah mengajari Dela membaca, tetapi sampai sekarang belum lancar juga. Padahal dia sudah kelas 5. Saya malu, Bu."⁣
Gina menghela napas.⁣
"Maaf, Bu. Bukankah Ibu sangat paham dengan kondisi anak-anak kita? Mereka penyandang disleksia, Bu. Saya yakin, Ibu menyekolahkan Dela di sini karena alasan yang sama dengan saya. Ingin mereka merasa nyaman dan belajar tanpa cacian, bukan begitu?"⁣
"Benar, Bu Gina."⁣
"Bu, setiap anak terlahir dengan keadaan berbeda. Jadi jangan pernah menyerah karena kekurangan yang dimilikinya. Cukup beri cinta dan dukungan luar biasa, maka ia akan menjadi hebat dengan sendirinya. Jika bukan orang tua yang merangkul anaknya, lalu siapa lagi? Ayo kita tunjukkan, anak kita sama dengan anak lain. Bahkan anak kita bisa lebih hebat walau memiliki kekurangan."⁣
"Ya Allah, betapa egoisnya saya, Bu Gina. Saya mengedepankan gengsi dibanding perasaan anak saya. Saya belum bisa jadi ibu yang baik."⁣
"Belum terlambat, Bu. Mari kita saling menguatkan agar bisa mendorong anak-anak kita menjadi hebat dan penuh percaya diri. Saya yakin mereka bisa mengubah kekurangan menjadi kelebihan," ucap Gina penuh semangat.⁣


- Fin -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Way Back Home

Free image by Pixabay "Sampai kapan kamu ingin menunggunya? Ini bahkan sudah lewat satu tahun dari waktu yang dijanjikannya."⁣ ⁣ "Dia orang baik, Mir. Orang baik akan selalu menepati janjinya. Mungkin kemarin-kemarin dia lupa tak menghubungiku, tapi aku yakin dia akan kembali padaku sesuai janjinya."⁣ ⁣ "Lalu masalah kabar itu?"⁣ ⁣ "Selagi kabar itu tidak keluar dari mulutnya sendiri, aku tak akan memercayainya."⁣ ⁣ "Ya sudah. Kalau begitu aku pulang dulu."⁣ ⁣ Kudongakkan kepala. Senja begitu indah saat dilihat dari sini. Damainya seolah menyatu dengan semilir angin yang menerbangkan dedaunan kering. Kupejamkan mata sembari berdoa, semoga kekasihku dalam keadaan baik dan bahagia.⁣ ⁣ "Sher ...."⁣ ⁣ Oh, tidak. Sepertinya aku sangat merindukannya, sampai-sampai desir angin pun terdengar mirip dengan suaranya.⁣ ⁣ "Sherin ...."⁣ ⁣ Seketika aku menoleh saat suara itu terdengar semakin nyata.⁣ ⁣ "Fero ... aku tidak ber...

Winter Girl

Free image by Pixabay Kupandang lekat layar gawai itu. Telunjukku terulur untuk mengusap sebuah gambar yang terpampang di sana. Sebuah cover yang sengaja kubuat untuk fiksi mini terbaruku.⁣ ⁣ "Kamu benar-benar ingin melihat salju?" tanya Andra setelah melongok kegiatanku.⁣ ⁣ Aku tersenyum lalu bergegas ke dapur.⁣ ⁣ "Tentu. Sebagai gadis yang terlahir di negara dua musim, aku sangat ingin mengunjungi negara yang memiliki musim dingin. Merasakan bagaimana dinginnya salju mencucuk tulangku, sekalipun aku sudah memakai pakaian tebal. Melihat hamparan putih, yang pada malam hari akan terlihat lebih indah karena diterangi lampu warna-warni," jelasku sembari meletakkan secangkir teh untuk Andra.⁣ ⁣ "Apa kamu tidak mencintai khatulistiwa?"⁣ ⁣ "Bukan aku tak mencintai khatulistiwa, tapi aku ingin mencoba pelukan dingin butiran salju nan bersahaja."⁣ ⁣ Keadaan berubah hening. Kami terlalu fokus dengan cangkir yang sedari tadi masih mengepulkan...